Injil Katolik Harian Kamis 9 Juni 2022 Lengkap Renungan Matius Matius 5:20-26 -->

Injil Katolik Harian Kamis 9 Juni 2022 Lengkap Renungan Matius Matius 5:20-26

Rabu, Juni 08, 2022

    Injil Katolik Harian Kamis 9 Juni 2022 Lengkap Renungan Matius Matius 5:20-26

    Injil Katolik Harian Kamis 9 Juni 2022 Lengkap Renungan Matius Matius 5:20-26

    Injil Katolik Harian Kamis 9 Juni 2022 Lengkap Renungan Matius 5:20-26 Yesus dan Hukum Taurat

    Bacaan Injil hari ini mengisahkan kembali bagaimana Yesus melarang kita supaya menjauh dari kemarahan.

    Mat 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

    Mat 5:21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.

    Mat 5:22 Tetapi Aku berkata kepadamu Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

    Mat 5:23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,

    Mat 5:24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

    Mat 5:25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.

    Mat 5:26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

    Renungan Matius 5:20-26 Yesus dan Hukum Taurat

    Bacaan injil hari ini mengajak kita untuk hidup secara dengan keadaan yang bersih-bersih saja yang mana kita harus menjauh dari kepalsuan, terlebih khusus dalam membangun relasi kita dengan Allah dan sesama.

    Yesus dengan tegas mengatakan, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Mat. 3:20).

    Memangnya bagaimana dan seperti apakah kehidupan yang dijalani oleh kedua kelompok ini sehingga dikritik keras oleh Yesus?

    Mereka merupakan orang-orang yang dengan setia selalu menjalani hukum Taurat secara detail, tanpa berusaha melanggar apa yang tertulis di dalamnya.

    Akan tetapi, pada beberapa kesempatan Yesus mengecam para ahli Taurat itu dan orang-orang Farisi itu sebab akarena kemunafikan mereka.

    Cara hidup mereka tunjukan kepada publik justru hal yang bertentangan dengan ajaran cinta kasih yang diwartakan oleh Yesus Kristus sendiri.

    Mereka memahami dan menjalankan ajaran cinta kasih dalam hukum Taurat secara harafiah.

    Inilah yang menjadi dasar bagi Yesus untuk mengingatkan Para RasulNya dan juga kita para pengikutNya agar tidak berperilaku seperti orang Farisi dan ahli Taurat yang hidup secara dangkal dengan menampilkan cara-cara hidup yang mengesankan untuk mendapatkan perhatian dan kehormatan.

    Mereka menlaksanakan hukum tersebut secara ketat tanpa ada yang bolong agar merasa mereka akan dibenarkan di hadapan Tuhan dan manusia.

    Maka dengan itulah mengapa Yesus mengundang kita untuk “hidup lebih dalam”, dengan bukan hanya menjalankan apa yang tertulis saja seperti yang dilakukan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu.

    Hari ini melalui bacaan injil harian ini Yesus menekankan beberapa secara tegas beberapa hal yang sangat erat berkaitan dengan kehidupan keseharian kita, dan mengajak kita untuk hidup dalam iman Kristiani secara lebih mendalam lagi.

    Pertama, Yesus mengingatkan soal kemarahan! Kemarahan adalah penyebab kesengsaraan!

    Bagi kita kemarahan itu adalah hal yang biasa, namun Yesus melihatnya sebagai sebuah masalah yang sangat besar, sebab oleh karena kemarahan, kita akan mengarah pada sebuah pelecehan verbal, tindakan kekerasan dan bahkan pembunuhan dan penganiayaan.

    MenurutNya, kemarahan akan menajdi akhir yang memengaruhi tindakan kita, yang menyebabkan kita menyakiti sesama dan pada akhirnya menyakiti diri kita sendiri juga.

    Pada kenyataannya kemarahan akan mendatangkan dosa bagi kita sendiri.

    Hal inilah mengapa Tuhan meminta kita untuk mengampuni sesama kita.

    Kita harus mampu menyembuhkan luka marah itu dalam hati kita agar kita semakin mendapatkan kedamaian yang besar.

    Jika kita tidak berdamai, kita akan dibawa ke kejahatan yang lebih besar.

    Hal ini menghalangi kita untuk menyembah Tuhan secara total dan menghalangi hati kita untuk memasuki kasih Tuhan.

    Ketika kita tidak bersatu dengan Tuhan, maka masalah lain akan muncul.

    Itulah sebabnya Tuhan menasihati kita untuk meninggalkan persembahan di mezbah dan berdamai terlebih dahulu dengan saudara kita (bdk. Mat. 5:23-24).

    Dalam nada yang sama, mempersembahkan persembahan kepada Tuhan bukan hanya tindakan eksternal dari pengorbanan kita.

    Cinta kepada Tuhan dan cinta kepada sesama kita berjalan beriringan.

    Yesus menjelaskan bahwa kedua perintah ini tidak dapat dipisahkan.

    Demikian Injil Katolik Harian Kamis 9 Juni 2022 Lengkap Renungan Matius 5:20-26 Yesus dan Hukum Taurat yang lebih mengisahkan kembali bagaimana Yesus melarang kita supaya menjauh dari kemarahan.***