Santapan Rohani Renungan Paskah Sabtu 16 April 2022, Andai Waktu Berputar Kembali -->

Santapan Rohani Renungan Paskah Sabtu 16 April 2022, Andai Waktu Berputar Kembali

Patung Bernyawa
Jumat, April 15, 2022

    Santapan Rohani Renungan Paskah Sabtu 16 April 2022


    Santapan Rohani Sabtu 16 April 2022
    Santapan Rohani Renungan Paskah Sabtu 16 April 2022



    Andai Waktu Berputar Kembali


    Bacaan Alkitab: Lukas 23:49-56


    Semua orang yang mengenal Yesus dari dekat... berdiri jauh-jauh dan melihat semuanya itu.” -Lukas 23:49

    Keinginan untuk "memutar waktu kembali" juga menggambarkan perasaan para pengikut Yesus setelah kematian-Nya. Meski tidak banyak bercerita tentang saat-saat mengerikan tersebut, kitab-kitab Injil mencatat perbuatan sejumlah kecil sahabat Yesus yang setia.

    Yusuf, seorang pemuka agama yang diam-diam percaya kepada Yesus (lihat Yoh. 19:38), tiba-tiba memberanikan diri untuk meminta mayat Yesus dari Pilatus (Luk. 23:52). Renungkan sejenak apa yang perlu dilakukan untuk memindahkan mayat dari kayu salib yang mengerikan, dan mempersiapkannya dengan hati-hati untuk penguburan (ay. 53).

    Perhatikan juga pengabdian dan keberanian para wanita yang setia mengikut Yesus, bahkan sampai ke kubur (ay. 55). Para pengikut ini bukan sedang menantikan datangnya kebangkitan, melainkan untuk berdamai dengan duka yang mereka rasakan.

    Pasal itu diakhiri tanpa harapan, hanya sebaris kalimat bernada sendu, "Setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur [untuk mengurapi jenazah Yesus]. Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat" (ay. 56).

    Mereka sama sekali tidak tahu bahwa jeda waktu karena hari Sabat itu menjadi persiapan untuk berlangsungnya peristiwa paling dramatis sepanjang sejarah. Yesus sedang bersiap-siap melakukan sesuatu yang tak terbayangkan. Dia akan memutarbalikkan kematian itu sendiri.

    Wawasan Renungan


    Pemerintah Romawi biasanya membiarkan mayat para kriminal yang disalib, terutama mereka yang dihukum karena pengkhianatan, untuk membusuk di atas kayu salib supaya dimangsa oleh burung-burung.

    Perlakuan ini dijadikan sebagai peringatan bahwa nasib serupa akan menanti mereka yang berani memberontak terhadap Romawi. Karena Sabat kali itu adalah "hari yang besar", yaitu hari Paskah/Roti Tidak Beragi, para pemimpin Yahudi meminta Pilatus agar mayat orang-orang yang disalib boleh diturunkan (Yohanes 19:31).

    Mayat yang ditinggalkan tergantung semalaman-malaman akan menajiskan tanah (Ulangan 21:22-23). Anggota keluarga tidak diizinkan untuk memberikan orang mati suatu penguburan yang layak, jadi mayat- mayat itu dibuang begitu saja di lahan pekuburan di luar kota.

    Mayat-mayat yang tidak dikubur dan ditinggalkan sebagai makanan burung bangkai dan binantang buas adalah bentuk celaan dan cemooh yang terburuk (Mazmur 79:2-4).

    Karena Yusuf, orang Arimatea, menengahi dan meminta mayat Yesus kepada Pilatus, Kristus pun dikuburkan dalam “kiburnya yang baru” (Matius 27:60), kuburan seorang kaya yang belum terpakai, dan dengan demikian menggenapi nubuat di Yesaya 53:9