Renungan Saat Teduh (Menjelang Paskah) Kamis 14 April 2022, Mendahului Kuasa Tuhan -->

Renungan Saat Teduh (Menjelang Paskah) Kamis 14 April 2022, Mendahului Kuasa Tuhan

Patung Bernyawa
Kamis, April 14, 2022

    Renungan Saat Teduh (Menjelang Paskah) Kamis 14 April 2022

    Renungan Saat Teduh (Menjelang Paskah) Kamis 14 April 2022
    Renungan Saat Teduh (Menjelang Paskah) Kamis 14 April 2022



    Mendahului Kuasa Tuhan


    Bacaan Alkitab: Lukas 23:44-49


    23:44 Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga,

    23:45 sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Baik Suci terbelah dua.

    23:46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan Nyawa-Nya

    23:47 Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya: “Sungguh, orang ini adalah orang benar!”

    23:48 Dan sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ untuk tontonan itu, melihat apa yang terjadi itu, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri

    23:49 Semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea, berdiri jauh-jauh melihat semuanya itu.

    RENUNGAN


    Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring, “ya Bapa, kedalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”—Lukas 23:46

    Alienasi, situasi merasa terasing, merupakan masalah yang dihadapi oleh banyak orang yang hidup di era seperti sekarang ini. Relasi sosial yang ditandai oleh mass self-communication, meminjam istilah Manuel Castells, seorang sosiolog yang meneliti tentang komunikasi, memicu keterasingan yang kerap kali melontarkan mereka ke dalam hidup yang pekat dengan kesunyian.


    Merasa kesepian pada akhirnya mendorong mereka ke jurang keputusasaan dan menjadikan bunuh diri sebagai jalan untuk keluar dari kepelikan hidup semacam itu.

    Bunuh diri pada dasarnya adalah tindakan arogan seseorang yang mendahului kuasa Tuhan. la memosisikan dirinya sebagai sosok berkuasa yang memiliki otoritas untuk mengakhiri hidup, yang sebenarnya bukan miliknya sendiri.

    Hal ini jelas tidak sejalan dengan kerendahan hati sebagaimana ditunjukkan oleh Yesus pada detik-detik akhir dalam hidup-Nya. Sebagai Anak Manusia, Dia menyerahkan nyawa-Nya ke dalam tangan Bapa (ay. 46).

    Penyerahan nyawa menjadi isyarat penundukan diri Yesus terhadap otoritas Bapa-Nya, Sang Empunya Kehidupan. Berada di tengah kepungan musuh dan pencemooh, ditinggalkan oleh murid-murid-Nya, serta merasa sendiri saat tergantung di atas kayu salib, Dia benar-benar merasakan kesepian tiada tara.

    Namun, Yesus tetap mengakui kuasa Bapa atas hidup-Nya yang mendatangkan kemuliaan bagi Allah (ay. 47). Pemikiran untuk mendahului kuasa Tuhan tak boleh tebersit dalam benak kita sebagai orang-orang percaya. Sesulit apa pun hidup yang kita jalani, otoritas Tuhan tetap yang pertama dan terutama bekerja atas diri kita.

    Atas nama kesulitan sekalipun tak ada alasan untuk mendahului kuasa Tuhan dalam hidup orang percaya.