Renungan Kristen Saat Teduh Jumat 15 April 2022, Penebus Hidup -->

Renungan Kristen Saat Teduh Jumat 15 April 2022, Penebus Hidup

Patung Bernyawa
Kamis, April 14, 2022

    Renungan Kristen Saat Teduh Jumat 15 April 2022, Penebus Hidup

    Renungan Kristen Saat Teduh Jumat 15 April 2022, Penebus Hidup
    Renungan Kristen Saat Teduh Jumat 15 April 2022, Penebus Hidup



    Salip Perdamaian-Nya


    Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene...dan orang itu mereka paksa untuk memikul Salib Yesus.” — Markus 15:21

    Sebab Dia hidup, kita pun hidup! Itulah kabar baik Paskah! Apa pun yang telah kita perbuat dalam hidup ini, Yesus telah membalikkan kesalahan kita dengan menjalani hidup yang sempurna, menanggung maut yang seharusnya kita terima, lalu bangkit dari kubur.

    Mari telusuri Renungan Istimewa ini yang mengingatkan bagaimana anda berolah hidup bersama Dia, kini dan selamanya.

    Yohanes mengisahkan adegan yang khidmat sebelum Yesus ditangkap. Di Perjamuan Terakhir, Yesus sangat terharu" menghadapi apa yang akan dialami-Nya, dan menubuatkan pengkhianatan yang akan terjadi pada-Nya (Yoh. 13:21).

    Kemudian, dalam tindakan yang sulit diterima akal manusia, Kristus melayani pengkhianatnya dengan memberinya roti. Tercatat di sana: "Yudas menerima roti itu lalu segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam" (ay. 30).

    Ketidakadilan terbesar dalam sejarah sedang berlangsung, tetapi Yesus berkata, "Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia" (ay. 31).

    Beberapa jam kemudian, para murid akan dikuasai rasa panik, terpukul, dan patah semangat. Namun, Yesus melihatnya sebagai penggenapan rencana Allah yang memang harus terjadi.

    Ketika kegelapan seolah-olah akan menang, marilah mengingat bahwa Tuhan sudah pernah menghadapi kekelaman dan mengalahkannya. Kini Dia melangkah bersama kita. malam ini pasti berlalu.

    Meski Simon dari Kirene disebutkan dalam ketiga Injil Sinoptik (Matius 27:32; Markus 15:21; Lukas 23:26), kita tidak tahu banyak tentang dirinya.

    Selain soal asalnya dari Kirene, kita hanya tahu Simon mempunyai dua anak, Aleksander dan Rufus (Markus 15:21). Namun, secuil informasi itu sangat mungkin berarti penting ketika kita mempertimbangkan keyakinan banyak orang bahwa jemaat di Roma merupakan pembaca utama dari tulisan Markus.

    Mengapa? Pertama, agaknya tidak mungkin Markus merasa perlu menyebut nama kedua anak Simon jika mereka tidak dikenal oleh jemaat mula-mula. Kedua, Paulus menyebut seseorang bernama Rufus di dalam suratnya kepada jemaat Roma:

    "Salam kepada Rufus, orang pilihan dalam Tuhan, dan salam kepada ibunya, yang bagiku adalah juga ibu" (Roma 16:13). Ada kemungkinan Rufus dari jemaat di Roma ini adalah salah seorang anak dari Simon yang memikul Salib Yesus.