OKTAF PASKAH Kamis 21 April 2022, Jangan Melakukan Apapun Dalam Kebodohan -->

OKTAF PASKAH Kamis 21 April 2022, Jangan Melakukan Apapun Dalam Kebodohan

Patung Bernyawa
Kamis, April 21, 2022

    *_OKTAF PASKAH_*


    (Kamis, 21 April 2022)
    Renungan Katolik Oktaf Paskah 2022
    Oktaf Paskah 2022


    Bacaan: 3: 11-26; Lukas 24: 35-48

    JANGAN MELAKUKAN APA PUN DALAM KEBODOHAN


    Dalam hidup bersama ada orang yang memanfaatkan kebodohan orang lain untuk mencapai kepentingannya sendiri. Kebodohan orang lain dimanipulasi atau diperdaya untuk mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri. Hal ini kita temukan dalam bacaan I hari ini.

    Orang-orang Yahudi amat heran ketika melihat seorang lumpuh bisa sembuh dan berjalan. Kesembuhan orang lumpuh itu dipakai oleh Rasul Petrus dan Yohanes untuk mewartakan Yesus yang bangkit kepada mereka. Menurut Petrus, Pribadi yang menyembuhkan orang lumpuh itu bukanlah manusia, bukan juga Petrus dan Yohanes. Tetapi Pribadi itu adalah Yesus yang bangkit yang mereka serahkan dan mereka tolak di depan Pilatus, meskipun menurut Pilatus Yesus itu harus dilepaskan, karena tidak bersalah. Mendengar pewartaan Petrus itu, orang-orang Yahudi merasa amat sedih dan terharu. Mereka merasa amat menyesal dan bersalah.

    Dalam keadaan demikian, Petrus lalu meneguhkan dan menguatkan hati orang-orang Yahudi itu dengan berkata: “Hai saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu tidak berbuat demikian karena ketidaktahuan sama seperti semua pemimpinmu. Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita. Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan(Kis 3: 17-19).

    Dari kata-kata Rasul Petrus ini, orang-orang Yahudi itu terlibat dalam peristiwa penghukuman dan penyaliban Yesus hanya karena ketidaktahuan atau karena kebodohan mereka. Mereka hanya ikut-ikutan terlibat padahal mereka tidak tahu kebenaran yang terjadi.

    Belajar dari pengalaman orang-orang Yahudi ini, hendaklah kita tidak berbuat asal berbuat atau bertindak asal bertindak. Setiap perbuatan dan tindakan kita harus dapat dipertanggungjawabkan dengan berpegang pada pengetahuan dan kebenaran. Itu berarti hanya bila kita tahu kebenaran dan benar-benar tahu tentang kebenaran perbuatan dan tindakan kita, barulah kita melakukan apa yang mesti kita lakukan. Jangan sampai kita melakukan perbuatan dan tindakan atau pekerjaan dan kegiatan tertentu hanya karena mendapat tekanan atau paksaan dari luar atau dari orang lain.

    Kesalahan yang kita lakukan dalam perbuatan atau tindakan apa saja tidak dapat dilimpahkan atau dialihkan kepada orang lain. Meskipun kita bersalah karena tekanan atau paksaaan dari luar, namun tetap kita sendiri menjadi pemikul atau penanggung jawab utama atas kesalahan yang kita lakukan, dan bukan orang lain. Orang lain hanya bisa merasa ibah dan mungkin menolong seperlunya saja, tetapi kita sendiri tetap memikul resiko atau menanggung akibatnya yang berat.

    Lebih daripada itu, kita tidak boleh memaksa orang lain untuk melakukan apa yang kita inginkan sendiri. *Bila orang lain menderita dalam hidup dan pekerjaan karena paksaaan dari kita, sungguh besarlah dosa dan kesalahan kita.

    Yesus memang menderita sesuai dengan tugas perutusan yang diterima dari Allah Bapa-Nya. Akan tetapi sungguh besarlah dosa dan sungguh beratlah kejahatan dari orang yang menyerahkan Yesus kepada penderitaan, kesengsaraan dan kematian.

    Siapa saja bisa menderita oleh karena apa saja, tetapi janganlah kita menjadi sebab atau penyebab penderitaan orang lain. Orang tua kita bisa sakit dan bahkan boleh sakit apa saja, tetapi janganlah mereka sakit karena ulah atau sikap anak yang jahat. Anak bisa sakit dan boleh sakit, tetapi janganlah mereka sakit karena kekerasan sikap dan perilaku orang tua. Kalau orang lain sakit, kita harus menyembuhkan orang sakit itu, tetapi kita membuat dia tambah sakit bila dia sakitr karena kejahatan dan dosa yang kita lakukan.

    Sebab itu kata Petrus kepada orang-orang Yahudi dan tentu juga kepada kita:’Sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan’ Bila kita menyebabkan orang lain menderita, kita pasti berdosa. Atau bila orang lain menyebabkan kita menderita, orang lain itu pasti berdosa. Kalau kita berdosa dalam penderitaan orang lain, kita harus insaf, sadar dan bertobat. Kalau orang lain berdosa dalam penderitaan kita, tentu orang lain itu sendiri mesti insaf, sadar dan bertobat. Hanya dengan cara demikian dosa kita atau dosa orang lain dapat dihapuskan oleh Tuhan.

    Doaku dan berkat Tuhan

    _Mgr Hubertus Leteng._