KOTBAH DAN RENUNGAN KATOLIK MINGGU PASKAH II 24 April 2022 -->

KOTBAH DAN RENUNGAN KATOLIK MINGGU PASKAH II 24 April 2022

Patung Bernyawa
Sabtu, April 23, 2022

    Kotbah dan Renungan Katolik, Minggu Paskah II

    Kotbah dan Renungan Katolik Minggu 24 April 2022
    Renungan Minggu Paskah II 24 April 2022


    Minggu Kerahiman Ilahi_ Minggu, 24 April 2022

    Bacaan: Kis 5: 12-16; Why 1: 9-11a.12-13.17-19;

    Yoh 20: 19-31


    YESUS DATANG PADA SAAT MANUSIA TAKUT


    Sesudah Yesus wafat dan dimakamkan, para murid amat takut. Maka berkumpullah mereka pada satu rumah dengan pintu yang terkunci. Tetapi dalam suasana penuh ketakutan itu, datanglah Yesus, berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: ‘Damai sejahtera bagi kamu!’ Sesudah berkata demikian, ... murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan” (Yoh 20: 19-20).

    Bukan saja murid-murid Yesus dahulu yang merasa takut, tetapi juga kita para murid-Nya sekarang ini tentu merasa terancam dan takut, karena berbagai tantangan dan masalah, kesulitan dan persoalan. Bila hal itu terjadi, ingatlah akan kebenaran ini: Seperti para murid dahulu mengalami kedatangan Tuhan pada saat mereka merasa takut terhadap ancaman orang-orang Yahudi, begitu juga Tuhan yang bangkit akan datang pada waktunya ketika kita merasa takut karena berbagai tantangan dan masalah, kesulitan dan persoalan dalam hidup.

    Pada saat hidup kita dikunci oleh ketakutan karena tantangan dan masalah atau karena kesulitan dan persoalan, Tuhan Yesus yang bangkit datang pada saat yang tepat, yang tidak disangka-sangka untuk membuka rumah ketakutan kita dengan kunci kata-kata-Nya atau dengan kata-kata kunci yang keluar dari mulut-Nya: ‘Damai sejahtera bagi kamu!’

    Sebab itu dengan kata-kata kunci yang dibawa oleh Yesus yang bangkit ini, janganlah kita tenggelam dalam kecemasan dan ketakutan karena apa saja dalam hidup. Tantangan dan masalah, kesulitan dan persoalan adalah hal yang amat lumrah dan biasa dalam hidup. Hidup kita akan menjadi statis dan berjalan di tempat, akan bosan dan membosankan serta akan jenuh dan menjenuhkan, bila tidak ada tantangan dan masalah, kesulitan dan persoalan yang mesti kita jumpai dan kita alami dalam hidup.

    Tetapi bila ada tantangan dan masalah, kesulitan dan persoalan, kita menjadi kreatif, otak kita terbuka dan pikiran kita berjalan. Dengan adanya tantangan dan masalah, kesulitan dan persoalan, hidup kita akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan serta mengalami perbaikan dan perubahan.

    Bunga yang disimpan di dalam ruangan yang tertutup tidak akan bertumbuh dan berkembang, apabila tidak ada matahari yang menyinarinya dan memanasinya. Panasnya sinar matahari memang terkadang menggigit rasanya, tetapi justru panas matahari yang menggigit itu membuat bunga bertumbuh dan berkembang meskipun berada di dalam ruangan yang tertutup.

    Dalam analogi ini, tantangan dan masalah, kesulitan dan persoalan adalah seperti sinar matahari yang memang rasanya panas dan menggigit, tetapi amat diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan, perbaikan dan perubahan hidup kita. Sebab itu janganlah kita cemas dan takut secara berlebihan bila ada tantangan dan masalah atau bila ada kesulitan dan persoalan.

    Tetapi kalahkanlah ketakutan dan kecemasan dengan ‘damai sejahtera’ yang dibawa kepada kita oleh Kristus yang bangkit. Apabila kita cemas, takut dan gelisah, jalan pikiran kita tertutup dan suasana hati kita gelap untuk melihat titik terang dan arah hidup yang baik dan benar di tengah tantangan dan masalah, kesulitan dan persoalan. Kondisi hati yang aman dan tenteram serta penuh damai sejahtera membuat jiwa kita lapang, terbuka dan pikiran kita terang untuk memandang arah kehidupan, melihat jalan solusi dan membaca peluang-peluang usaha baru dalam hidup.

    Maka bukalah pintu hati dan budi kita untuk menerima masuk ke dalam diri dan hidup kita damai sejahtera yang Tuhan bawa untuk kita. ‘Damai Sejahtera bagi kamu!’

    Satu hari Nadus, temannya Nasrudin duduk di bawah pohon sambil makan dan minum arak. Saat itu adalah bulan puasa suci, jadi ada larangan kuat untuk minum minuman keras. Ketika Nasrudin singgah dan duduk-duduk di bawah pohon itu, Nadus terus mengajak dia: “Marilah teman, duduk-duduk dan temani aku di sini untuk minum arak.”

    Terus Nasrudin bilang: “Apa teman tidak malu minum arak pada hari puasa suci ini?” “Lihatlah, teman Nas, betapa Tuhan sudah menciptakan keindahan berupa pohon yang teduh dan air mancur yang mengalir. Apakah nanti di akhirat, kita tidak dibilang menyia-menyiakan keindahan ini dengan tidak menikmati setiap momen di dunia ini?” jawab Nadus.

    Setelah berdebat lama, akhirnya Nasrudin mencoba untuk menikmati arak itu 1x, 2x, 3x, 4x, dan lalu minum terus sampai mabuk bersama Nadus {Rosma Nur Riana, Humor Sufi: Darwis dan Modin, Kisah Jenaka dari Tanah Turki, dari Internet, Garut, 24/4/2022}.

    Godaan selalu indah dan menarik. Tetapi begitu kita mencobainya, kita akan ketagihan dan dengan itu kita lupa diri dan tidak lagi mengalami damai dalam hidup.

    Doaku dan berkat Tuhan

    Mgr Hubertus Leteng.