9 Tahun Kurungan, Ahir Perjalanan Sang Perinstis 3 Periode Mabar -->

9 Tahun Kurungan, Ahir Perjalanan Sang Perinstis 3 Periode Mabar

Minggu, Maret 06, 2022


    Agustinus CH Dula Mantan Bupati Manggarai Barat (Terpidana Kasus Pengalihan Aset Pemda Mabar)


    BebasBicara-Terpilih pada 27 Juni 2005 sebagai Wakil Bupati pertama Kabupaten Manggarai Barat. Agustinus CH Dula bersama Fidelis Pranda mulai membangun Fondasi-fondasi Wisata di Labuan Bajo.

    Sebagai pemimpin pertama, berbagai rintangan yang dihadapi Gusti Dula dan Fidelis Pranda. Mulai dari pembuatan Perda dari Minimnya anggaran dan proses pengalihan Aset yang rumit dari Kabupaten Induk Manggarai jadi masalah tersendiri yang perlu di selesaikan.

    Belum lagi tuntutan pembangunan Infrastruktur, Pemberdayaan Ekonomi untuk manaikan PAD dan berbagai masalah lainnya harus diterima sebagai konsekuansi Kabupaten Baru.

    Benar bahwa Fedilis Pranda adalah Pj Bupati sebelumnya sejak tahun 2003, tapi kala itu Manggarai Barat (Mabar) hanya kabupaten tempelan yang menunggu Anggaran sisa Kabupaten Induk Manggarai untuk mengelola daerahnya.

    Kini, Tantangan itu sudah lewat mungkin juga sudah dilupakan. Bagaimana gambaran Labuan Bajo yang dahulunya hanyalah Kota Kecamatan kumuh, sekarang telah menjadi Pusat Wisata.

    Kedua Pemimpin Pertama Mabar itu pun Sudah tidak lagi berdikari. Bahkan mungkin jejak-jejak mereka di Mabar sudah mulai dilupakan Masyarakat.

    Berahir 9 Tahun Dalam Jeruji.


    Tidak ada catatan Korupsi yang dilakukan Sang Mantan sebelumnya, Tidak ada Anggota KPK atau Petugas Tipikor Kupang yang silih berganti memasuki Ruang kerja beliau.

    Tetapi saat memasuki 2017, Sinyal akan berurusan dengan hukum mulai muncul. Ketika itu, Sang Mantan dan mantan Ketua DPRD Mabar di panggil sebagai saksi atas Kasus proyek Jalan Lando-Noa.

    Kasus yang menjerat Kepala Dinas Pekerjaan Umum Agus Tama dan Vinsen selaku Kontraktor sempat menyeret Nama Gusti Dula. Namun hingga ahir kasus itu nama Gusti Dula masih aman, padahal Kapolres Mabar sebelumnya sudah memberi sinyal akan ada tersangka lain selain kedua tersangka yang sudah ditetapkan.

    Kasus itu sendiri berahir pada tahun 2018, Tahun dimana Kejati NTT mulai mencium aroma Konspirasi penjualan Aset Tanah 30 Hektar di Karangan, Labuan Bajo.

    Sejak saat itu, Penyidik Kejati NTT sudah wara-wiri Kupang-Labuan Bajo dalam upaya membongkar Kasus penjualan Aset Pemerintah yang melibatkan banyak Tokoh itu termasuk sang Mantan 3 Periode.

    Hingga ahirnya penyidik Kejati NTT resmi menahan sang mantan pada Rabu, 10 Maret 2021 Pukul 13.30 WITA setelah melalui serangkaian pemeriksaan.

    Meski Upaya Hukum Coba dilakukan Sang Mantan untuk menyelamatkannya dari Jeruji Besi, Akan tetapi berahir sia-sia karena Mahkamah Agung (MA) menolak Kasasi yang diajukan Gusti Dula.

    Jaksa Eksekutor Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT Hendrik Tiip kepada media, Sabtu (5/3/2022) mengatakan, Pihaknya telah melakukan Eksekusi putusan Mahkamah Agung (MA) terhadap terpidana Agustinus CH Dula.

    Dengan ditolaknya Upaya Kasasi yang dilakukan, Gusti Dula akan tetap ditahan sesuai dengan Putusan Nomo 33/pid.sus-TPK/2021/PN.Kpg sebelumnya yakni 9 Tahun Penjara.

    Hendrik Tiip juga menerangkan, selain menjatuhkan Hukuman Penjara 9 Bulan, Gusti Dula juga diharuskan membayar Denda Senilai Rp 600 Juta Subsider 3 Bulan.