Tinggal Berdua di Rumah, Bocah di NTT Rawat Ibunya Yang Gangguan Jiwa, Kerja Angkut Batu Bata Buat Bayar Sekolah -->

Tinggal Berdua di Rumah, Bocah di NTT Rawat Ibunya Yang Gangguan Jiwa, Kerja Angkut Batu Bata Buat Bayar Sekolah

Patung Bernyawa
Minggu, Januari 09, 2022

    Sejak Linda tinggal di Asrama, saya yang urus mama, saya yang masak, cuci, dan mengerjakan semua pekerjaan di rumah,” Tutur Egi.

    Linda dan Egi Foto By Kompas.com

    Harianflobamora.com-Egi Yohanes Bahur
    (13) seorang bocah Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kampung jengok, Desa Bangka Kantar, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur-NTT terpaksa merawat ibunya seorang diri.

    Masih sangat muda namun tanggung jawab besar sudah bertumpuk di punggungnya karena harus merawat seorang Ibu yang sedang dalam gangguan mental.

    Semua pekerjaan yang tidak seharusnya dikerjakan olehnya harus ia tanggung, Mulai dari urusan memasak di dapur, mencuci pakian, hingga mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

    Melansir dari Kompas.com, Bocah yang kerap di sapa Egi itu tidak menyangka jika hari itu ia kedatangan Tamu di rumahnya.

    Sekitar 20 orang lebih, datang berkunjung pada hari Jumat (7/1/2022), beberapa diantara mereka adalah Relawan Kelompok Kasih Indanis (KKI) Peduli Sehat Jiwa Nusa Tenggara Timur serta sejumlah warga sekitar.

    Tadi setelah pulang sekolah, saya ada Kerja angkat Batu Bata di rumah salah satu warga disini,” Ujar Egi seperti melansir, Minggu (9/1/2022) kepada Kompas.com

    Para relawan itu mendatangi Rumah Egi setelah mendapatkan Informasi bahwa ibu remaja tersebut mengalami Gangguan Jiwa.

    Kedatangan Relawan Peduli Sejat Jiwa (PSJ) sendiri awalnya untuk melihat Kondisi sekaligus memberikan edukasi kesehatan jiwa kepada keluarga Egi

    Namun kenyataan yang terjadi justru lebih menyedihkan dari sekedar gangguan jiwa. ibu yang dalam gangguan jiwa tersebut hanya dirawat oleh seorang Bocah.

    Sakit Sejak 9 Tahun Lalu

    Ibun da Egi berinisial MN ini mengalami ganguan jiwa sejak 9 Tahun yang lalu atau tepatnya pada Tahun 2013. Sejak saat itu, Ibunda Egi sering berbicara sendiri, dan menaruh curiga kepada siapa saja yang datang ke rumahnya.

    Kami disini memang kasian dengan kondisi Ibu MN, tetapi kami tidak bisa membantu karena dia selalu curiga dan bahkan memaki orang yang datang ke rumahnya,” Ujar salah seorang warga yang tidak menyebutkan nama.

    Diketahui, MN memiliki 7 orang anak, anak sulung hingga ank ke lima telah berkeluarga dan tingga jauh dari mereka. Ada yang merantau, ke Malaysia dan Kalimantan.

    Setelah suami MN meninggal, MN hanya tinggal bersama kedua anaknya yang terahir yaitu Linda dan Egi.

    Linda saat ini sudah duduk di bangku SMK Tiara Nusa Borong juga sudah jauh dari ibunya karena harus tinggal di Asrama karena jarak dari Sekolah ke rumah sangat jauh.

    Sementara Egi, harus menemani keseharian Ibunya di rumah agar bisa membantu memasak nasi, Cuci dan pekerjaan rumah lainnya termasuk mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari

    Sejak Linda tinggal di Asrama, saya yang urus mama, saya yang masak, cuci, dan mengerjakan semua pekerjaan di rumah,” Tutur Egi

    Egi mengatakan, Sejak ayahnya meninggal dunia, setelah pulang sekolah Ia selalu berusaha mendapatkan uang, Biasanya bekerja serabutan

    Saya kerja itu sejak kelas enam SD, saya biasa kerja bajak orang punya sawah, tanam padi dan kerja apa saja yang bisa menghasilkan uang,” Katanya

    Dari pekerjaan-pekerjaan itu saya dapat upah 10.000 hingga 20.000,” lanjut Siswa kelas 2 SMP Negeri 8 Borong tersebut

    Hasil pekerjaannya itu, jelas Egi, digunakan untuk membeli kebutuhan sekolah dan pakian serta kebutuhan  lainnya.

    Meski Kakaknya yang bekerja di Malaysia sering mengirim uang untuk membantu Biaya sekolah, membeli beras dan kebutuhan rumah lainnya, Namun kadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.

    Kalau uang sekolah dikirim oleh kakak yang kerja di Malaysia, begitu juga untuk beli beras dan kebutuhan lainnya di rumah.

    Kadang uang yang kakak kirim itu tidak cukup untuk penuhi kebutuhan kami,” Ujar Egi sambil mengeluhkan hingga saat ini ia dan Linda belum mendapatkan Bantuan dari pemerintah seperti Program Indonesia Pintar (PIP)