20 PERILAKU GURU MENURUT KH. HASYIM ASY’ARI -->

20 PERILAKU GURU MENURUT KH. HASYIM ASY’ARI

Kamis, Desember 16, 2021


      

    Oleh : Ahmad Afandi

    Berbicara tentang masalah pendidikan, tentunya kita tidak akan terlepas dari sosok guru yang merupakan penentu dalam maju mundurnya pendidikan. Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi tidak bisa menggantikan keseluruhan peran dan fungsi guru. Secanggih apapun teknologi seperti internet, tetap bisa menyesatkan jika penggunaannya tanpa kontrol. 

    Semua orang meyakini bahwa guru memiliki andil yang besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Tanpa bantuan dari seorang guru,  peserta didik tidak dapat mewujudkan tujuan hidupnya dengan optimal. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang membutuhkan orang lain dalam perkembangannya, sebagaimana halnya dengan peserta didik yang dititipkan oleh orang tua di lembaga pendidikan, dengan harapan sang anak dapat berkembang optimal dibawah bimbingan guru(Mulyasa,2006:38). 

    Walaupun demikian, para orang tua juga harus berhati-hati dalam menyekolahkan putra-putrinya ke lembaga pendidikan. Sebagai orang tua, kita harus selektif terhadap guru, karena tidak sedikit guru yang menyesatkan dan membahayakan masa depan anak bangsa. Telah banyak kasus amoral yang dilakukan oleh guru maupun tenaga pendidik di berbagai daerah, mulai dari lembaga pendidikan tingkat dasar hingga lembaga pendidikan tingkat tinggi. Seperti kasus guru yang memukuli anak didiknya, mempersulit perkembangan peserta didik, bahkan kasus guru yang memperkosa peserta didik. 

    Oleh karenanya, perilaku seorang guru sangat mempengaruhi perkembangan pendidikan peserta didiknya. Sebagaimana pepatah mengatakan bahwa guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Pepatah tersebut mengingatkan kepada seluruh tenaga pendidik, bahwa semua perilaku seorang tenaga pendidik baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat menjadi teladan bagi peserta didiknya.

    Perilaku menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah suatu tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Dasar manusia berperilaku karena adanya dorongan dari dalam untuk memenuhi kebutuhan. Dengan demikian perilaku merupakan aktivitas atau kegiatan manusia yang muncul disebabkan rangsangan yang dapat dilihat secara langsung maupun tidak langsung. Persamaan kata atau sinonim dari kata perilaku adalah watak; budipekerti;  akhlak.

    Perilaku guru adalah keseluruhan gerak jasmaniah dan rohaniah yang dilandasi oleh dunia kognisi, motivasi, sikap, system nilai, moral, etika, estetika, dan kepercayaan. Berdasarkan penjelasan diatas, maka tidak mengherankan bila Hadratus Syaikh KH.Hasyim Asy’ari dalam karyanya Adabul Alim WalMuta’allim menjelaskan dengan sangat terperinci beberapa perilaku yang harus dimiliki oleh seorang guru, diantaranya perilaku pribadi seorang guru, perilaku guru dalam mengajar, dan perilaku guru kepada murid-muridnya.

    Terdapat 20 perilaku yang harus dimiliki seorang guru untuk dirinya sendiri (Hasyim Asy’ari,2021:48). Pertama, guru harus selalu merasa diawasi Allah SWT saat sendiri maupun saat bersama orang lain. Kedua, senantiasa takut kepada Allah SWT dalam setiap gerak, diam, ucapan, dan perbuatan. Ketiga selalu tenang,  keempat wara’, kelima tawadhu’, keenam khusyuk. Ketujuh dan kedelapan memasrahkan segala urusan kepada Allah SWT dan tidak menjadikan ilmunya sebagai batu loncatan untuk memperoleh tujuan-tujuan duniawi. Kesembilan, tidak memuliakan para penghamba dunia dengan cara berjalan dan berdiri untuk mereka, kecuali bila kemaslahatan yang ditimbulkan lebih besar dari kemafsadahannya. Kesepuluh, memiliki perangai zuhud dan mengambil dunia sekedar cukup untuk diri sendiri dan keluarganya sesuai standar qana’ah. Kesebelas, menjauhi segala bentuk mata pencaharian yang rendah dan hina menurut akal sehat, danp frofesi yang makruh menurut adat dan syariat Islam. Kedua belas, menghindari tempat-tempat yang memungkinkan timbulnya prasangka buruk orang terhadap dirinya. Ketigabelas, menjaga keistiqamahan menjalankan syiar-syiar Islam dan hukum dhohirnya. Keempat belas, melestarikan sunnah,  membasmi bid’ah dan memberikan perhatian terhadap masalah agama dan urusan-urusan yang menyangkut kemaslahatan umat Islam, sesuai dengan jalan yang bisa diterima olehs yariat, adat, dan tabiat.

    Kelimabelas, selalu menghiasi perbuatan dan pekerjaan dengan kesunnahan seperti membaca Al-Qur’an dan dzikir kepada Allah dengan hati dan lisan. Keenambelas, memperlakukan orang lain dengan budi pekerti yang baik. Ketujuh belas, membersihkan jiwa dan raga dari perilaku yang tercela dan membangunnya dengan perilaku yang mulia. Kedelapan belas, memberi semangat dalam menimba ilmu dan selalu bersungguh-sungguh dan istiqamah beribadah serta rajin membaca, belajar, mengulang-ulang ilmu, mengkritisi kitab yang dibaca, menghafal, berdiskusi, dan mengajarkan ilmu. Kesembilan belas, guru tidak malubertanya sesuatu yang tidak diketahui kepada orang yang secara jabatan, nasab, dan umur berada dibawahnya. Keduapuluh, menyibukkan diri dengan mengarang, meringkas, dan menyusun karangan bila mampu melakukannya (Hasyim Asy’ari,2021:62).

    Bukan hal mudah bagi tenaga pendidik untuk memenuhi perilaku-perilaku sebagaimana yang tersebut diatas. Hal ini disebabkan mendidik tidak hanya butuh keluasan ilmu, tetapi juga harus memiliki titik tekan pada jiwa. Profesi guru harus berangkat dari jiwanya, bukan karena keterpaksaan apalagi pelarian karier. Guru memiliki peran sentral dan sangat penting di dalam proses pendidikan. Oleh sebab itu, guru dalam proses penyampaian ilmu haruslah dilakukan dengan beberapa perilaku yang baik dalam pelaksanaannya.

    Seiring dengan ikhtiar revolusi mental yang ditindak lanjuti melalui pelajaran budi pekerti, semoga, pendidikan Indonesia kedepadan, memilki guru yang berilaku patut digugu dan ditiru. Harapannya, perilaku amoral anak bangsa sangat bisa dieleminir.