Eks Prajurit Cakrabirawa Saat G30S/PKI; Latif dan Untung Pamit Ke Soeharto Sebelum Culik Dewan Jenderal

Ishak Bahar (87), Eks Prajurit Cakrabirawa menceritakan bagaimana Abdul Latif dan Letnan Kolonel Untung Syamsuri sempat berpamitan kepada Soejarto sebelum menculik dan Membunuh Dewan Jenderal (Pahlawan Revolusi)

Ishak Bahar, Foto Editor Kompas, Kontributor Banyumas M Iqbal

Harianflobamora-Tepat hari ini, 56 tahun yang lalu, berlangsung peristiwa berdarah yang menjadi catatan Merah dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia

Tujuh Perwira Tinggi TNI Angkatan Darat yang dituding sebagai “Dewan Jenderal” diculik oleh Batalion Pasukan Pengawal Presiden bernama Cakrabirawa yang diketahui berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI)

Melansir Kompas.com, Pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari, di siksa dan dibantai dalam sebuah sumur tua di daerah Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta.

Buntut dari peristiwa ini, Sekitar 500.000 yang di tuduh  kader, Simptisan dan pendukung PKI di Eksekusi massal di berbagai daerah di Indonesia.

Selain itu, Ada juga yang di penjara dan diasingkan sebagai tahanan Politik selama Puluhan tahun tanpa pernah diadili sebagai layaknya Warga Negara


Seperti yang terjadi pada Ishak Bahar (87), salah satu saksi hidup yang mengetahui secara Rinci kronologi malam Kelam 1 Oktober 1965.

Lansia yang pernah menyandang Pangkat Sersan Mayor (Serma) ini saat peristiwa G30S/PKI bertugas sebagai Komandan Regu Pengawal Istana Batalion Cakrabirawa

Saya pendidikan di Komando Pasukan Khusus (RPKAD, saat ini Kopasus) terus bertugas di pengawal Istana tahun 1964

Waktu Soekarno Pidato di Konferensi Asia Afrika, saya yang mengawal presiden ke Aljazair,” Tutur Ishak di rumahnya, seperti melansir Kompas.com, Kamis (30/9/2021)

Ishak mengungkapkan, Keterlibatan dirinya dalam Tragedi G30S/PKI merupakan Hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Ishak merasa terjebak dalam Pusaran Politik yang menjungkirbalikkan Nasibnya dari seorang Patriot yang terhormat menjadi pesakitan berlabel penghianat Negara.


Ishak mengatakan, Dirinya masih mengingat Jelas saat Letkol Untung, Pimpinan Ishak di Batalion Cakrabirawa memberi perintah untuk ikut bersamanya

Padahal, Menurut Ishak, pada Sore hari 30 September itu, ia memiliki Jadwal mengawal presiden ke Senayan Jakarta.

Sore itu sekitar Jam 18.00 WIB, saya ada tugas untuk mengawal Soekarno ke Mabes Teknisi di Senayan, tahu-tahu pak Untung datang minta saya ikut Dia,” Tutur Ishak

Meski saat itu Ishak sempat bertanya Ke Letkol Untung  sebagai Komandannya di Batalion Cakrabirawa karena perintah untuk mendapingi bertepatan dengan tugas mengawal presiden

Namun, Sebagai Prajurit dia terikat dengan Sumpah Militer untuk patuh kepada Pimpinan, tidak membantah peritah atau putusan.

Sudah jangan mengawal (Presiden), Ikut saya,” Jelas Ishak menirukan perkataan Untung

Kemudian dengan senjata lengkap, Ishak mengawal dalam satu Kendaraan bersama Letkol Untung, Kolonel Abdul Latief, Sopir dan Ajudan.

Saya tidak dikasih tahu tujuan kemana, Tahu-tahu mampir ke Rumah Sakit Angkatan Darat (RSPAD) untuk mememui Soeharto yang sedang menjaga Anaknya, Hutomo Mandala Putra (Tomy) yang lagi sakit,” Ujar Ishak

Ishak Sendiri menuturkan bahwa dirinya tidak ikut masuk kedalam Kamar dimana Tomy di Rawat. Namun, dalam perjalanan dia menguping jika Untung dan Latief sudah mendapat Izin Soeharto untuk sebuah Misi yang baru dia sadari sesudahnya

Baik Pak Untung dan Pak Latief itu Pamitan dengan Soeharto mau Nyulik Jenderal,”Lanjut Ishak dengan Lantang.

Suasana di Lobang Buaya Malam G30S PKI

Sepulang dari bertemu Soeharto, Ishak diperintahkan Untuk bersiaga di Sebauh Pondok di Daerah Lobang Buaya.

Setelah berada disana, Ishak dibuat Kaget karena teman-temannya dari Pasukan Cakrabirawa datang berduyung-dutung di tempat itu.

Saya kaget malah, pasukan-pasukan datang, ya Anggota Cakrabirawa, teman-teman saya. Tahu-tahu dibagi regu untuk menculik Jenderal. Saya tidak (menculik), saya ngawal Untung di Lubang Buaya,” Jelas Ishak

Masuk 1 Oktober pukul 01.00 WIB, satu persatu regu bergerak untuk menculik Dewan Jenderal. Tidak lama setelahnya yakni Pukul 03.00 WIB, Para Jenderal Datang silih berganti.

Ishak juga menuturkan, tidak semua Jenderal yang di bawah oleh Prajurit Cakrabirawa dalam keadaan masih hidup.

Jenderal Yani (Letjen Ahmad Yani), Panjaitan (Brigjen D.I Panjaitan), Haryono (Meyjend Harjono) Mati, dan Toyo (Brigjen Sutoyo) Sudah meninggal.

Yang hidup hanya tiga, Jenderal Prapto (Meyjen R Soeprapto), Jemderal Parman (Meyjen S Parman) dan Tendean (Lettu Pirre Tandean). Jenderal Nasution nggak ada,” Ujar Ishak Lagi

Saya Kaget, saya panik, malah kok begini, ada apa,” Lanjut Ishak

Karena kepanikan itu, para jendral yang diculik, baik masih hidup atau sudah meninggal dijebloskan kedalam sumur tua.  

Tubuh mereka dilempar lalu ditembak dari atas secara membabi buta.

Saya menyaksikan langsung dengan satu polisi namanya Soekitman. Awalnya Soekitman ini suruh dibunuh, tapi saya tahan, saya lindungi, saya bilang kamu tidak tau apaapa” kata Ishak sambil memperagakan detik-detik penembakan.

Kelak, Soekitman yang diselamatkan Ishak inilah yang menjadi saksi kunci bagaimana kebiadaban para tentara Cakrabirawa membantai Dewan Jendral.

Soekiman Pulalah yang menunjukkan Lokasi dimana Para Jendral dibantai dan dikubur oleh para Pasukan Cakrabirawa dan PKI

Ishak Menceritakan, Kejadian itu sangat Cepat dan sampai detik-detik terahir Para Jenderal yang di Sebut sebagai Dewan Jenderal itu di Masukkan dalam Sumur dirinya masih tidak percaya apa yang terjadi di depan Matanya adalah Nyata.

Saya hanya sedikit tahu kalau Dewan Jenderal ini mau menggulingkan Pak Karno, Sebagai Pasukan pengawal presiden Cakrabirawa  berkewajiban menggagalkan itu,” Jelasnya

Setelah itu lalu bubar, saya nggak tahu (Untung dan Latief) pada kemana, saya ditinggal dengan pasukan-pasukan yang lain. Saya pulang sendiri dengan membawa Truk, Sopir dan Soekiman itu tadi,” Katanya

Sesampainya di Markas Cakrabirawa, tidak berselang lama datang pasukan tentara berpita Putih, Ishak kemudian dilucuti dan di Jebloskan ke dalam Penjara tanpa di Mintai keterangan Apapun

Saya di tahan belasan Tahun tanpa pakai persidangan apa-apa, hanya sekali dimintai keterangan jadi Saksinya Untung,” Ujar Ishak

Di ahir ceritanya, Ishak mengatakan jika kepingan Memori Kejadian G30S/PKI masih melekat erat dalam ingatannya.

Mulai dari pertama kali bertugas sebagai pengawal Presiden, Wajah Rekan-rekan di Cakrabirawa hingga peristiwa G30S/PKI

Jadi bagi saya, kejadian itu seperti kejadian kemarin, masih ingat semua, masih membayang. Saya baca bukunya Soeharto itu banyak, paling berat melanggar Hak Asasi Manusia (HAM),”Tutup Ishak

Artikel Telah terbit di Kompas dengan Judul “Kesaksian Eks Prajurit Cakrabirawa saat G30S/PKI: Abdul Latief dan Untung Pamit Ke Soeharto Sebelum Culik Dewan Jenderal”

Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.