Sufi Progresif Itu Telah Pergi

Tadz Zaini, begitu orang-orang biasa memanggil  ayah dari  tiga orang anak ini. Beliau adalah seorang ustadz dan dosen di salah satu pesantren terbesar di Indonesia ; Pondok Pesantren Salafiyah Syaf'iyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur.

Tiga minggu -tepatnya 23 hari yang lalu saya berjumpa beliau dalam keadaan sehat walafiyat, beberapa hari yang lalu tiba-tiba tersiar kabar sakitnya kritis, dan kini menyebar berita duka,  beliau menghadap ilahi, sebuah kabar menyedihkan hati.

Awal bulan saat saat saya menyowani beliau, dengan gaya yang khas beliau bertanya kabar dan meminta cerita ikhtiar saya mengepakkan sayap ilmu yang saya dapatkan  dari beliau, khususnya mengajarkan kitab tasawwuf Hidayatu Al-Adzkiya' di tanah Sumba, salah satu kitab yang ku perdalam makna-maknanya bersamamu, pada Ramadlan 1448.

Terimakasih tiada tara untuk beliau, yang telah membimbing saya dan segenap santri-santrinya melakukan gerak sosial yang progresif mengawal tatanan masyarakat berkeadilan, kesetaraan - kemanusiaan, kepedulian sosial, ideologi pembebasan ala pesantren, good goverment dan governance hingga menapaki tangga spiritual.

Selama mengarahkan kami, beliau menjalani dalam bingkai persahabatan, walau kami memosisikan beliau bak Guru Besar di Universitas, namun Pak Zaini perlakukan kami sebagaimana teman, anak bahkan pada titik tertentu sebagai lawan diskusi.

Selama itu terasa renyah dalam suasana riang, tak pernah sepi dari cerita-cerita beliau yang penuh jenaka nan penuh makna, canda khas pesantren berpadu dengan nilai intelektual masa kini.

Diawali dari ruang kelas Madrasah Tsanawiyah,  uraian Tarikh Tasyri' (sejarah pensyariatan islam) beliau membongkar kejumudan cakrawala santri, termasuk diri saya, tema pelajaran yang berat menjadi ringan dan menyenangkan, yang senatiasa mengangenkan segenap santri, menantikan jadwal beliau mengajar.

Sebagai orang dekat Almarhum Kyai Fawaid, jadwal beliau cukup padat menemani dan atau membantu Kyai Fawaid bermanivestasi dalam dinamika sosial kemasyarakatan, membuat para santri  semakin rindu akan kelugasan ulasan-ulasan Tarikh-nya oleh karena harus seringkali absen mengajar.

Ketelatenanya mendampingi masyarakat hutan dan rakyat tertindas, terpinggirkan dan terancam tergusur dari lahan mereka, mengharuskan sahabat santri, asatidz dan aktifis reforma agraria dan aktifis HAM sekelas Almarhum Cak Munir menyematkan gelar Ulama' Tanah kepadamu. 

Performa ustadz-aktifis beliau memukau bagi banyak orang, termasuk saya, oleh karenanya, membersamai beliau dalam proses pendewasaan adalah impian saya saat itu, menuju pribadi santri progresif- transformatif.

Setelah lulus SMA, kesempatan baru berdealektika bersama beliau saya temui, diawali advokasi kasus tindak kekerasan oknum TNI kepada sebagian tokoh masyarakat Muncar  Banyuwangi, kemudian berlanjut ke proses pemberdayaan masyarakat melalui gerak sosial Badan Pemberdayaan  Pesantren dan Masyarakat(BP2M).

BP2M yang beliau nakhodai, mengambil peran transformasi sosial yang diamanahkan oleh pengasuh PP.Salafiyah Syafiiyah Sukorejo saat itu; Kyai Fawaid. Sebagai lembaga yang transformatif dan sesuai dengan idea keberagamaan-keilmuan  beliau, mengarahkan BP2M pada advokasi resolusi konflik tanah di Bugeman, Merak dan Banongan dan daerah lain Tapal Kuda. Selain itu, program pendampingan dan pemberdayaan  masyarakat, pesantren bahkan peningkatan kapasitas pemerintah daerah, tidak luput dari hasrat perjuangan Ustadz Zaini.

Laju perjuangan beliau, menjadi media saya dan teman-teman mengasah kepekaan dan kepedulian sosial, hingga akhirnya, beliau juga mengasah spitualitas transendental, menuju kenikmatan bersama Allah.

Dengan telaten beliau membimbing saya memahami makna-makna kitab tasawwuf seperti Hikam Ibnu Athoillah berikut syarahnya; Iqodhu Al-Himam dan yang terakhir, empat tahun yang lalu, engkau mengajakku untuk mengaji Kifayatu Al-Atqiya', syarah kitab Hidayatu Al-adzkiya'  dengan metode munadhoroh (bertukar pikiran), antara saya dan beliau bergantian  membaca sekaligus mengulas dengan pemahaman literatif.

Selanjutnya, hasil munadhoroh itu saya sebarkan kepada santri-santri di Pondok Pesantren Baitul Hikmah  Waikabubak Sumba Barat NTT, dan bahkan kini meluas kepada kalangan eksternal santri Baitul Hikmah, saya memberanikan-memantaskan diri mengulas hasil munadhoroh bersama beliau di forum terhormat, di hadapan sebagian hakim Pengadilan Agama dari berbagai penjuru nusantara dan masyarakat umum melaui kajian virtual zoom meeting.

Saya yakin di antara para peserta kajian virtual di Chanel Pengajian Hakim Pengadilan agama itu banyak yang jauh lebih alim, namun semangat untuk menyebarkan ajaran tasawwuf yang terbangun bersama Ustadz Zaini, menutupi rasa under estimate pada diri ini di hadapan para hakim yang mulya.

Episode lanjutan ikhtiar dalam menebar syair-syair sufi Syaikh Zainuddin Al-Malibari, saya perdengarkan kepada beliau 23 hari yang lalu, saat  saya menghadap beliau di kediamannya yang penuh dengan buku dan kitab, saya narasikan lanjutan pengasahan keilmuan dan spiritual di hadapan beliau, semata-mata sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada beliau, bukan untuk membusungkan dada di hadapan guru yang mulya. Harapan saya, beliau sebagai guru bisa bangga dan senantiasa membimbing dalam do'a.

Di penghujung perjumpaan terakhir itu,  beliau melakukan kebiasaannya, ber- muthorohah (bertukar pikiran)  lalu  memberi hadiah kitab "Nashoihu Al-Jilaniy", sebuah kitab kecil yang berisi nasehat-nasehat sufistik Syaikh Abdul Qodir  Al-Jilaniy. Hingga di penghujung 'Kalam' , beliau dan saya berencana, membuat Muhadloroh Virtual Tasawwuf dan Keadilan-Kesejahteraan Sosial, sebuah tawaran etika sosial dari pesantren guna mengawal peradaban bangsa dari desa.

'Laboratorium' awal yang akan kita bedah adalah peran kepala desa, anggota DPRD dan bupati alumni Sukorejo dalam membangun keadilan-kesejahteraan umat. Langkah pertama akan dimulai dari Profiling alumni yang mengisi jabatan tersebut, untuk kemudian digali pemahaman tasawwufnya yang teraplikasi dalam sikap, kebijakan maupun keputusan politiknya, langkah berikut akan ditarik korelasinya antara motivasi sufistik dan prestasi yang diraih  dalam program pembangunan yang berkeadilan-kesejahteraan.

Namun, sebelum tiba waktu yang kita rencanakan, Allah berkehendak lain, memanggil beliau di luar dugaan kami semua, siapa menyangka akan secepat ini Ustadz Zaini Ahsin menghadap ilahi,  pada malam  Sabtu 25 Juni 2021. 

  الانسان بالتفكير والله بالتقدير 

Manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan!


#Tulisan ini dimuat dalam Facebook Penulis,  Wahab Assamakiy Sajs, satu 2 jam setelah almarhum diyatakan wafat dengan narasi dialog antara orang pertama dan kedua.


Tidak ada komentar

Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.