Meneladani Kesabaran Dan Kelembutan Jibril Saat Mengajar Rosulullah


Ahmad Afandi,M.Pd.I

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting  dan mendesak bagi perkembangan anak, menuju keberhasilan dalam pendidikan, para pihak menempuh berbagai usaha yang keras, baik melalui pendidikan formal, non formal maupun keluarga. 

Dalam islam, Rosulullah sendiri sangat menekankan nilai penting pendidikan, teruatama bagi anak, Beliau menyabdakan :

 “ Didikan salah satu diantara kalian kepada anaknya, lebih baik disbanding bersedekah satu sha’ makanan”.

Seiring dengan perkembangan zaman yang ditopang oleh kemajuan teknologi, kesadaran akan pentingnya pendidikan semakin meningkat dari masa ke masa, pemerintah dan pihak swastapun antusias membangun infrastruktur sekolah dan berbagai komponen yang menunjang pada keberhasilan pendidikan.

Namun demikian, sering dengan kemajuan pendidikan, kekerasan fisik kerap menyertai proses pendidikan baik di lingkungan sekolah maupun keluarga. Pada tahun 2019, KPAI merilis laporan 127 kasus kekerasan di lembaga pendidikan berdasarkan hasil pengawasan sejak bulan Januari hingga Oktober 2019. Dari127 kasus tersebut, terdapat 21 kasus kekerasan fisik. 

Informasi terbaru yang terjadi di Lumajang menunjukkan bahwa kekerasan dalam pendidikan masih mewarnai dinamika pendidikan kita, sebagaimana laporan detikNews 05April 2021, Kepala Sekolah berikut guru di salah satu Madrasah Ibtidaiyah di Lumajang  menyulut telapak tangan   10 siswanya dengan korek api hingga melepuh.

Fenomena kekerarasan di lembaga pendidikan sebagaimana terlapor-gambarkan diatas, mengindikasikan mainstream kekerasan masih  menjadi pegangan sebagian guru  dalam pola pembelajaran. Menurut KPAI, aksi kekerasan fisik dalam lembaga pendidikan yang melibatkan guru sebagai pelaku, rata-rata mengatasnamakan pendisiplinan siswa berupa cubitan, pukulan , tamparan, bentakan, makian, penjemuran di bawah sinar matahari , hingga hukuman lari keliling lapangan sebanyak 20 kali (TEMPO.CO 30/10/2019). 

Secara sosiologis, tindakan kekerasan merupakan salah satu masalah sosial yang ada pada masyarakat modern. Dalam medefinisikan kekerasan,  Martono menjelaskan bahwa kekerasan adalah tindakan yang dilakukan oleh individu terhadap individu lain yang mengakibatkan gangguan fisik  maupun mental (Martono,2012:38).

Menyikapi aksi kekerasan dalam pendidikan, Rosulullah SAW melarang tindakan kekerasan yang berdampak buruk pada fisik maupun mental,  Beliau sangat marah ketika melihat orang tua memperlakukan anaknya dengan kasar dalam proses pendisiplinan. 

Hal ini tercermin dalam sebuah hadits, Ummu Al-Fadhl yang disitir oleh Prof. Dr. Qurais Syihab, Ummu Fadhl menceritakan; suatu ketika aku menimang seorang bayi. Roslulullah SAW lalu mengambil bayi itu dan menggendongnya, tiba-tiba bayi itu kencing dan membasahi pakaian Rosulullah. Segera saja aku renggut secara kasar bayi itu dari gendongan Roslullah. Rosulullah pun menegurku :”pakaian yang basah ini dapat disucikan dengan air,  tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan  dalam jiwa sang anak akibat renggutanmu yang kasar itu?” (Qusrais Syihab,2000:263-264).

Kejadian lain yang dapat kita jadikan pelajaran untuk bersikap lemah lembut dalam proses pendidikan adalah  perlakuan Malaikat Jibril Kepada Rosulullah SAW pada saat menyampaikan wahyu pertama, dimana malaikat Jibril memegang lalu memeluk beliau,  sebagaimana tergambar dalam potongan hadits  “..Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku..”

Abi Jamroh, dalam kitab Bahjatu Al-Nufus Wa tahliyha fi ma laha wa maa ‘alaiha  memberi penekanan pada redaksi, memegang dan memeluk sangat kuat sebagai gambaran keseriusan, kesabaran dan kelembutan Jibril mengajari nabi membaca wahyu pertama.

Kemudian Syaikh Abi Jamroh meneruskan penjelasannya, beliau berpendapat bahwa perlakuan Malaikat Jibril kepada Rasulullah  SAW  mengindikasikan sebagai pelajaran bahwa, seorang pengajar perlu menekan emosinya ketika mendapati murid yang kesulitan mencerna pelajaran, selanjutnya guru tersebut harus memperhatikan situasi pembelajaran secara  seksama -termasuk peserta belajar, ketika terjadi ketidak berhasilan dalam pembelajaran,hendaknya pengajar membedah situasi belajar, mengidentifikasi serta  menganilisis berbagai kemungkinan penyelesaiannya, sehingga peserta belajar mencerna pelajaran dengan tuntas dan  tujuan pembelajaran tercapai. 

Dalam membedah, serta menganalisis masalah pembelajaran, teruatama yang berhubungan dengan peserta belajar, hendaknya para pengajar melakukannya dengan  dengan penuh rasa cinta serta sikap ramah dan lemah lembut, bukan dengan pendekatan  marah-marah, kasar, apalagi pukulan. 


Menurut Imam Al-Ghazaliy, seorang guru hendaknya memiliki sifat kasih sayang, ulama’ yang mendapat gelar Hujjatu Al-Islam ini memandang penting sifat kasih sayang  oleh karena akan dapat menimbulkan rasa percaya diri dan rasa tentram pada diri murid terhadap gurunya. 

Pertanyaannya kemudian, bagaimana setelah guru bersikap lemah lembut ternyata masih belum berhasil atau mendapat perlakuan balasan yang tidak seharusnya dari murid?. Untuk menjawab masalah ini, kita kembali pada penjelasan Abi Jamroh, jika seorang pengajar terpaksa harus memukul peserta belajar, ia hanya dibolehkan memukul maksimal tiga kali, hal ini berdasarkan perilaku nabi yang tidak pernah memukul peserta belajar lebih dari tiga kali. Pukulannya pun tidak boleh terlalu parah sehingga terasa sangat sakit atau mengganggu perkembangan mental peserta belajar.

Berbekal refleksi hadits yang penulis paparkan, semoga kita mampu menghadirkan  wajah pendidikan Indonesia tanpa kekerasan.

Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.