Halaman Facebook

Kontribusi Lingkungan Terhadap Perkembangan Anak

Ahmad Afandi, M.Pdi.

Setiap orang tua memilki harapan dan cita-cita anaknya sukses di masa depan, namun upaya mencapai cita-cita yang dimaksud tidaklah mudah, otang tua harus berusaha keras melakukan semua hal yang mengarah pada pencapaian cita-cita itu.

Salah satu penentu keberhasilan orang tua mengantarkan anaknnya menggapai cita-cita adalah penciptaan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan fisik dan mental anak. Situasi lingkungan yang mengitari anak kita, bisa saja mendukung pada pertumbuhan yang positif dan bisa saja sebaliknya; berdampak negatif. 

Oleh karenanya, peran orang tua sangat penting dalam mengelola dinamika lingkungan, orang tua perlu melakukan pemantauan setiap saat untuk memenetrasi pengaruh negatif dari lingkungan tempat anak berinterkasi sosial.

Dalam proses pengelolaan dinamika lingkungan anak, sangat penting para orang tua memetik pelajaran dari perjalanan kehidupan Nabi Ibrahim, dimana beliau berhasil mencetak generasi penerusnya mencapai puncak cita-cita, banyak para nabi dan utusan terlahir dari keturunan Nabi Ibrahim hingga beliau mendapat julukan bapak para nabi.

Pengondisian Ibrahim bagi lingkungan anaknya tergambar dalam surat Ibrahim Ayat 37, beliau berdo’a :

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS.Surat 14;37)



Ayat di atas adalah kisah Nabi Ibrahim As ketika  membawa Hajar, ibu Isma’il bersama putranya, Isma’il saat masih dalam masa susuan dari wilayah Syam hingga menempatkannya di Makkah. Pada waktu itu, kota Makkah tidak berpenghuni, tiada orang yang memanggil yang menjawab. Ketika Ibrahim menaruh mereka di sana, maka beliau memanjatkan doa ini. 

Beliau memohon dengan ketundukkan lagi tawakkal kepadaNya, wahai Rabbku, “sesungguhnya aku telah menempatan sebagian keturunanku”, tidak semua keturunanku. Karena Ishaq masih berada di negeri Syam. Demikian pula anak-anaknya yang lain. Beliau hanya menempatan Isma’il dan keturunannya di kota Makkah. FirmanNya, “di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman”, karena tanah kota Makkah tidak cocok untuk lahan pertanian.

Selanjutnya Nabi Ibrahim melanjutkan Do’anya  “Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendiirikan shalat”, maksudnya jadikanlah mereka orang-orang yang bertauhid lagi mendirikan shalat. Sebab menegakkan shalat termasuk ibadah agama yang paling istimewa lagi utama. Siapa saja yang menegakannya, maka sungguh dia telah menegakkan Agamanya. 

Kemudian Nabi Ibrahim memohon kepada Allah “Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka”, maksudnya mencintai mereka dan menyenangi tempat yang mereka huni. Allah mengabulkan doa beliau. Allah melahirkan Muhammad dari keturunan Isma’il yang mengajak umat keturunan beliau kepada agama Islam dan ajaran agama Ibrahim. Mereka pun menyambut dakwah Nabi Muhammad dan menjadi orang-orang yang menegakkan shalat. 

Dan Allah mewajibkan berhaji ke Baitullah yang mana Ibrahim telah menempatkan (sebagian) keturunannya di dalamnya, dan menciptakan rahasia yang menakjubkan di sana, memikat kalbu-kalbu (manusia). Bahkan, semakin sering seorang hamba berkunjung ke Makkah, semakin tinggi rasa kerinduan dan semakin besar kecintaan dan hasrat untuk ke sana. Inilah rahasia kenapa lafazh “bait (rumah)” dinisbatkan kepada DzatNya yang suci (menjadi rumah Allah). 

Terakhir beliau  berdo’a “Dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”, Allah mengabulkan doa nabi Ibrahim. Maka berubahlah keadaan, berbagai buah-buahan didatangkan ke sana. Kita dapat melihat kota Makkah setiap saat, dalam keadaan dipenuhi bermacam-macam buah yang melimpah dan rizki datang silih berganti dari segala penjuru.

Allah mengetengahkan Cerita Nabi Ibrahim di atas  dalam  Al-Qur’an sebagai anjuran bagi umat manusia untuk menempatkan anak di lingkungan  baik,  lingkungan yang bisa mengarahkan pikiran dan tingkah laku anak untuk berbuat baik (Ibadah) sebagaimana nabi Ibrahim menempatkan Nabi Isma’il di Makkah yang merupakan lokasi Ka’bah ,  menenmpatkan Nabi Ishaq di Syam, dimana kedua tempat itu adalah tempat yang diberkati , yang situasinya  mendorong penghuninya untuk mendekatkan diri kepada Allah, baik melalui ibadah ritual maupun sosial.