Inilah Sosok KKB Yang di Takuti TNI dan Jauh Lebih Berbahaya dari KKB Papua -->

Inilah Sosok KKB Yang di Takuti TNI dan Jauh Lebih Berbahaya dari KKB Papua

Patung Bernyawa
Senin, Mei 10, 2021

    Hingga kini perlawanan KKB papua semakin bersemangat setelah Pemerintah melabeli Kelompok mereka sebagai Teroris

    Militan Frentiling, KKB yang paling di takuti TNI hingga menurunkan Alutsista tempur untuk menghancurkan mereka

    Alih-alih takut dengan kekuatan Besar TNI bersama Pasukan Khususnya, KKB Papua Malah sesumbar dan menantang Balik TNI untuk perang terbuka

    Bahkan kelompok Teror yang satu ini mengatakan Jika TNIlah yang Teoris bukan mereka. 

    Selain itu mereka juga mengancam akan membunuh semua warga dari luar papua karena di anggap mencuri tanah mereka.

    Namun siapa sangka, ternyata TNI kita pernah menghadapi Kelompok Kriminal Bersenjata yang jauh lebih hebat dari KKB papua yang sekarang.

    Kelompok itu bernama Frentilin dan Tropaz yang saat itu berjuang untuk Timor Timor atau Negara Timor Leste saat ini agar berpisah dari Indonesia.

    Keunggulan dua kelompok itu adalah memiliki persenjataan serta pasukan yang terlatih, Struktur Komando yang Rapi dan terorganisir.

    Inilah beberapa Cerita Kehebatan Frentiling  dan Tropaz dalam memperjuangkan Timor Leste untuk Menjadi sebuah Negara, 

    Meskipun saat ini, Negara yang mereka perjuangkan itu dahulu sedang dalam masalah Ekonomi yang sangat pelik.

    Awal Mula Hancurnya Markas Besar Frentilin

    Kisah berawal dari ABRI (nama sebelum TNI) menerjunkan Personil Yonif Linud 501 dan Grub-1 Kopasandha di Dili pada 7 Desember 1975.

    Pada pertemuan Awal di Dili, saat itu Frentilin kalah dalam persenjataan sehingga memilih mundur meski berhasil menggugurkan Pasukan ABRI sebanyak 35 orang.

    Dili, kemudian berhasil di rebut ABRI dan Frentilin Lari ke hutan untuk menyusun Rencana perang selanjutnya.

    Benteng terbesar Frentiling sendiri berada di Gunung Metabian. Semua kekuatan yang dimiliki Frentilin terpusat disana yang merupakan pertahanan terahir mereka.

    Menurut Buku Karangan J Suryo Prabowo berjudul "Operasi Lawan Insurjensi" menceritakan jika Benteng Fretilin yang berada di Gunung Matebian memiliki pertahanan Berlapis

    LAPISAN PERTAMA di jaga oleh para militan tidak terlatih yang memang Khusus di umpankan kepada ABRI

    LAPISAN KEDUA terdiri dari Tentara didikan Tropaz yang di latih oleh Militer Portugal.

    LAPISAN KETIGA yang juga merupakan lapisan terahir diisi oleh pasukan Elit Frentilin yang bertugas melindungin para pemimpin dan tokoh penting mereka

    Mengetahui kekuatan mengerikan itu, ABRI pun mempersiapkan perlawanan dengan mendatangkan Alutsista seperti pesawat Tempur Anti-Gerilya OV-10 Bronco.

    Dalam buku "Kisah Sejati Prajurit Paskhas" ABRI di gambarkan tidak main-main menghadapi Frentilin.

    Mulai dari Resiment Team pertempuran (RTP) 18, Pasukan Konstrad TNI AD dan Kopasgat atau Paskhas, hingga Pesawat Tempur OV-10 Bronco dan pesawat T-33 milik TNI AU di turunkan untuk melakukan penyerangan.

    Seorang Saksi serangan tersebut yang juga Anggota Kopasgat Koptu Aten menceritakan Nasibnya saat ABRI menyerang gunung Matebian

    Aten menuturkan saat berada di puncak Gunung Matebian bersama Rekan-rekannya mereka melihat Milisi Frentiling sedang bersiaga.

    Kemudian dengan segera mereka menembaki pasukan Frentilin yang di lihatnya dengan senjata AK-47, namun tembakan mereka tidak mengenai satupun anggota Frentiling.

    Bahkan Pasukan Frentiling berbalik mengejek dan menertawakan serangan Aten dan kawan-kawan.

    Melihat Militan Frentilin mengejek dan menghina pasukan ABRI, Koptu Aten segera meminta  dukungan pesawat Tempur T-33 untuk membombadir tempat yang di duduki Frentiling.

    Akibat serangan T-33 itu, banyak pasukan Frantilin yang mati seketika itu juga Benteng pertahanan mereka hancur berantakan.

    Nonok Soeratno Anggota Kopasgat yang juga ikut dalam serangan tersebut menjekaskan Serangan itu sangat Besar

    Saking besarnya, Satu-persatu kelompok Pro-Frentiling hilang semangat tempur dan menyerah begitu saja ke TNI (Waktu itu Masih bernama ABRI)

    Alhasil, pertahanan Frentilin yang sangat kuat tersebut Hancur lebur. Sementara pasukan yang selamat segera terun gunung dengan cara meluncurkan diri kemudian membentuk kembali kantong-kantong Gerilya.