Bagaimana Hukum Tidak Rasional Pada Tersangka Yang Membela Diri Dari Kejahatan Pemerkosaan.

Foto Ilustrasi


Menghilangkan Nyawa Seorang manusia dengan cara membunuh memang kejahatan Luar Biasa. namun  lebih luar biasa mana ketika ada seorang kepala desa atau Pemimpin lainnya menghilangkan Uang Negara dan merugikan banyak orang (KORUPSI DANA COVID). 

Tulisan ini tidak untuk menyinggung kepala desa atau pemimpin manapun yang ada di Indonesia Kususnya NTT. kalau tersinggung yaah sudah, berarti anda (isi Sendiri)

Kita mulai dari kasus terbunuhnya seorang laki-laki di Timor Tengah Selatan (TTS) oleh seorang perempuan remaja yang hendak di perkosanya.

Menurut pengakuan sanga Gadis, dia di paksa untuk melakukan hubungan intim Oleh pelaku saat sedang mencari kayu bakar di Hutan. jika tidak di turuti maka dirinya akan di pukul.

Kejadian ini, sebenarnya yang akan di penjara adalah pelaku yang hendak memperkosa. Namun sayang nyawanya pergi lebih dahulu sehingga tidak mungkin polisi atau penegak hukum memenjarakan kuburan dalam Sel tahanan.

Tapi taukah anda, kalaupun si pelaku yang hendak memperkosa masih hidup meskipun dalam kondisi yang kritis tetap yang di lihat oleh hukum bukan lagi niatnya untuk memperkosanya,  

tapi lebih kepada penderitaan yang di alami oleh si calon pelaku pemerkosa. itu artinya tetap yang di hukum adalah orang yang hendak di perkosa atau si Gadis tadi.

Adilkah memiliki hukum yang seperti itu.? bagaimana jika Gadis tadi tetap di perkosa kemudian tidak melapor karena takut sangsi Sosial yang menimpanya di kemudian hari.

Jika kita mau terbuka, Ada begitu banyak kasus pemerkosaan yang tidak pernah terungkap di indonesia karena alasan ini.

Banyak Kaum perempuan yang lebih memilih untuk menyembunyikan penderitaan yang di alaminya daripada melapor kepolisi karena tekanan yang sama (takut di pukuli) atau Ancanan ancaman lainnya.

Memang Kasus pemerkosaan bukan tergolong dalam kasus Besar, tapi di penjara dengan tuntutan maksimal Penjara seumur hidup karena hendak membela kesucian dan Moral diri adalah sesuatu yang perlu kita renungi kembali.

Penulis takut kedepannya tindakan membela diri dari kejahatan tidak akan pernah di lakukan lagi karena sistem hukum yang kadang tidak rasional seperti ini.

Penulis berpendapat, apa yang di lakukan Sang Gadis benar benar hanya untuk membela diri tanpa sedikitpun berniat untuk membunuh.

Mungkin sebagian pembaca harianflobamora.com adalah orang yang mengerti hukum dan tau bagaimana menyelesaikan persoalan kasus ini dari kaca mata KUHP.

Tapi bagi penulis dan masyarakat lainnya yang tidak mengerti hukum tentu akan bertanya tanya, dimana Rasionalitas hukum kita dalam menindak pelaku kejahatan seperti ini, siapa yang jahat sebenarnya.?

Penulis teringat dengan sebuah Berita tentang seorang remaja yang membunuh Begal di kota Malang karena hendak membela diri.

Remaja yang melawan begal tadi berhasil menang  dan melumpuhkan Pembegal hingga tewas.

Remaja itu kemudian di tangkap polisi karena tuduhan menghilangkan nyawa seseorang.

Namun ahirnya dia bebas dari tuntutan hukum karena Remaja itu memberikan alasan bahwa dia melakukan perlawanan karena terdesak dan ingin membela diri.

Pada kasus TTS, Penulis ingin Membahas sedikit pasal 340 dan 49 KUHP, dimana pasal 340 adalah pasal yang dipakai untuk kasus ini dan anehnya di pasal itu ada perencanaan Pembunuhan.

sementara dalam pasal 49 KUHP, membahas tetang pembelaan diri dan di perbolehkan melakukan tindakan melawan hukum demi membela diri pada situasi terdesak.

Namun untuk di ketahui, dalam kasus TTS, Polisi sudah bekerja sesuai prosedur dan aturan Undang undang yang berlaku.

Bersalah atau tidaknya nanti akan terbukti di pengadilan. Hakim yang akan memutuskan.

Semoga tulisan ini bermanfaat, penulis menyampaikan mohon maaf jika ada kajian atau tulisan yang melenceng dari pmbahasan.

Itu semata karena kekurang penulis dalam menyerap informasi publik.


Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.