Jaman Jokowi Jauh Lebih Kejam dan Menakutkan Daripada Jaman Soeharto

Presiden Indonesia  Ir.H. Jokowidodo

Senyum misterius Presiden Soeharto ketika seorang anak dari Sulewesi Tengah kabupaten Binjai bertanya "Kenapa Presidennya Cuman Satu".

Pertanyaan yang penuh dengan kepolosan dari seorang Anak Murid Sekolah Dasar tersebut rupanya mendorong Soeharto untuk bertanya balik.

"Kenapa kamu bertanya begitu, kenapa, siapa yang suruh siapa.? ada yang suruh kamu bertanya begitu.?"

/>

Kejadian itu terjadi di Istana Negara tahun 1993 atau 5 tehun sebelum Soeharto dilengserkan jadi jabatannya sebagai Presiden yang setelah memimpin kurang lebih 32 tahun lamanya.

Itulah sedikit kata pengantar penulis pada tulisan kali ini, sekaligus juga mengomentari Judul tulisan artikel ini yang terinpirasi dari Curhatan Kwik Kian Gie di Twitter beberapa waktu yang lalu.

Yang membandingkan Sistem pemerintahan yang terjadi di Era Orde Baru dan masa pemerintahan sekarang yang di pimpin oleh Ir. H. Jokowidodo.

Lewat sebuah Cuitan Twitter, Mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi dan Industri Kwik Kian Gie menyampaikan dirinya tidak pernah setakut sekarang menyampaikan pendapat kepada Publik.

/>

Ia mengaku ketakutan dengan aksi para Buzzer yang menyerang dan mengumbar masalah pribadi jika menyampaikan Pidato yang tidak sejalan dengan mereka.

Kwik Lantas bercerita tentang pengalamannya tentang seputar kebebasan berpendapat di Era Soeharto yang ia akui bisa Leluasa menyampaikan kritikan Tajam.

Tweet Kwik Kian Gie

"saya belum pernah setakut ini mengemukakan pendapat yang berbeda dengan maksud baik memberikan alternatif. Jaman Soeharto, saya di beri Kolom sangat longgar oleh kompas. Kritik kritik Tajam tidak sekalipun ada masalah", Tulis Kwik.


Tulisan itu langsung di komentari oleh mantan menteri KKP Susi Pujiastuti "I'm With Pak Kwik" Tulis Susi.

Beragam Komentarpun menbanjiri Cuitan Kwik Gie, sebagian komentar mendukung pernyataannya namun sebagian yang lain mendebati cuitan tersebut.

Seperti yang di sampaikan oleh akun bernama @Aewi menulis, "Jaman pak harto kalau ada Medsos entah apa yang terjadi dengan Bapak. Kok Bapak kehilangan jati diri", tulisnya dalam komentar.

Hasil Investasi Jurnalistik

Mengomentari apa yang di Sampaikan Kwik Kian Gie kami mencoba mencari kebenaran peristiwa yang disampaikan dan kenyataan yang terjadi.

Pertama Di jaman Soeharto tidak ada Internet seperti sekarang, sehingga Kasus Penembak Misterius dan orang Hilang tidak pernah di ketahui masyarakat terlebih lagi kebebasan Pers di jaman itu sangat sangat memperihatinkan.

Pelarangan penertbitan berita yang tidak searah dengan orde baru sampai kasus pembredelan yang terjadi pada Majalah majalah dan Media Masa.

Sperti yang di Alami TEMPO tahun 1980 karena menulis tentang kampanye Golkar yang mengalami kerusuhan.

Selanjutnya DetikMajalah EditorMajalah FokusSinar Harapan dan PrioritasKompas dan lain sebagainya juga mengalami Pembredelan dengan alasan mengganggu keamanan dan ketertiban Negara.

Jadi Apa yang di sampaikan Kwik Kian Gie tentang kebebasan Pers jaman Orde Baru perlu di ragukan mengingat keterbatasan Ruang gerak Pers Waktu itu sangat terbatas bahkan jika anda yang salah menulis maka nyawa adalah taruhanya.

Seperti makna dibalik Pidato yang pernah disapaikan sendiri oleh presiden Soeharto,

"Menikmati kebebasan demi kebebasan itu sendiri adalah keistimewaan yang tak mampu kita dapatkan".

Pembaca Bisa melihat sendiri di Google tentang Rekam jejak Pers Jaman Orde baru yang di kekang dan diatur sedemikian rupa agar tidak memberitakan sesuatu yang merugikan pemerintah.


Tidak ada komentar

Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.