Kubu Oposisi Mau Jokowi di Penjara, Buntut Kampanye Ganti Presiden Tidak Kesampaian

Presiden Republik Indonesia

Lucunya Negara ini, saat negara negara lain melindungi Presidennya agar Eksistensi negaranya tetap di akui dunia, 

di indonesia malah ada yang ingin menjatuhkan presidennya dengan gerakan yang terbilang sangat lucu dan konyol.

Bahkan bukan hanya lucu dan konyol, gerakan mereka juga terlihat sangat memaksakan kehendak sehingga bukannya mendapatkan apresiasi justru malah caci maki.

Akal waras bangsa ini akan semakin merosot karena ulah orang orang seperti mereka yang jarang mengedepankan prasangka baik akibat kebencian yang terlalu banyak terpendam.

Seoalah olah yang melaporkan sang presiden ini adalah orang orang yang paling banyak berjasa di bangsa ini sehingga mereka harus terlihat lebih ribut dari yang lain.

Akal sehat dan kecerdasannya banyak di pakai untuk membenci dan mempertahankan argumen kebenciannya sehingga mereka terlihat seperti teroris versi Sipil.

Mari kita melihat siapa saja yang melaporkan jokowi ke polisi karena kerumunan di maumere, Sikka.

1. Gerakan pemuda Islam (GPI)

Organisai yang masih satu Nafas dengan HMI ini melaporkan Presiden kepolisi kerena menurut mereka sang presidenlah yang menciptakan kerumunan yang terjadi di maumere, Sikka.

Organisasi yang selalu mengklaim diri berasal dari GPII ini,dalam internalnya saja selalu ribut soal sangketa Nama GPI dan GPII. GPII sendiri telah di bubarkan tahun1963 karena di anggap organisasi terlarang.

Lalu siapa Mereka.? mereka adalah bagian dari anak ayam yang kehilangan induk paska Yusril bergabung ke kubu Jokwi-Ma'ruf pada Pilpress 2019.

Jangan Heran Jika mereka sangat membenci Jokowi, karena posisinya di negara ini selalu menjadi ormas yang terlantar dan tidak memiliki tuan.

Berbeda dengan NU dan Muhammadiyah yang  terlihat adem ayem padahal dua oramas besar itu memiliki Anggota yang berjuta juta dan struktur yang jelas serta sistem pengkaderan yang teratur.

2. Koalisi Masyarakat Anti Ketidakadilan (KMAK)

Koalisi Masyarakat Anti Ketidakadilan Melaporkan Jokwi kepolisi karena di anggap menyebabkan kerumunan yang terjadi di Maumere Sikka.

Kurnia Sebagai Pewakilan Organisasi mengatakan, Jokowi dilaporkan karena Menyebabkan kerumunan dan tidak patuh terhadap Prokes.

Kurnia menilai, Ketidak patuhan Jokowi terhadap prokes kerena melempar bingkisan kepada masyarakat.
Yang menyebabkan kerumuna semakin bertambah.

Lagi lagi ormas entah dari mana dan kapan di bentuknya ini, coba mencari panggung di tengah kemelut politik dan giringan opini yang dilakukan untuk menjatuhkan sang presiden.

Anehnya, dari ratusan juta masyarakat indonesia, hanya 2 ormas yang berani melapor bahwa kerumunan tersebut adalah kesalahan jokowi, 

sementara kebayakan Tokoh, Pengamat maupun Politisi lebih menyorot kerja Protokoler dan Satgas Covid.

Alasan Polisi Menolak Laporan 

Sampai saat ini Polisi belum menjelaskan kenapa laporan dari kedua Organisasi di atas tidak di tindak lanjuti atau di tolak.

Berdasarkan Informasi yang kami dapat dari berbagai sumber, alasan penolakannya adalah karena laporan itu menurut polisi tidak resmi atau tidak dapat menunjukan Bukti Ajakan Berkerumun, sehingga di kembalikan untuk di buatkan laporan resmi.

Meskipun polisi belum menjelaskan kenapa laporan dari Pihak pihak ini di tolak akan tetapi kami  melihat apa yang di lakukan oleh pihak pihak yang melapor ini hanyalah  sebuah bentuk Pansos untuk mengangkat nama Oganisasinya.

Kita bisa membandingkannya dengan masalah kerumunan yang dilakukan Habib Riziek ketika mengundang orang datang pada pesta pernikahan anaknya. bukankah itu yang disebut Polisi sebagai Bukti Ajakan Berkerumun.? 

Namun Ketika Pihak yang melaporkan ini dimintai Bukti tersebut mereka tidak bisa menunjukannya, malah menuduh Polisi dan Negara tidak Adil.

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.